Kamis, 17 Desember 2009

BAB I PENDAHULUAN

BAB I
PENDULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Pernyataan itu tertuang dalam Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tentang sistem pendidikan nasional (2005: 76). Selanjutnya bab II pasal 3 UU tersebut menjelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi wagra negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Abad ke-21 dikenal sebagai abad globalisasi, atau abad teknologi komunikasi dan informasi. Informasi menjadi salah satu ”sumber daya” yang penting dan merupakan faktor penentu dari kompetensi global. Keterbukaan mendorong mengalirnya teknologi baru dari negara maju ke Indonesia. Era global menuntut adanya perbaikan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan dan akses yang lebih baik terhadap ilmu pengetahuan. Pendidikan berperan dalam mendorong terjadinya alih teknologi, adaptasi teknologi, maupun penyebarannya.
Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi perlu terus menerus diadaptasikan kepada berbagai program studi dan ilmu yang lain, termasuk ilmu pendidikan. Kemajuan ini diharapkan memberikan kontribusi pada perubahan dan perbaikan proses pembelajaran yang akan menunjang kepada etos kerja yang makin baik melalui berbagai pendekatan, strategi, metode, bahan ajar, dan media serta sistem penilaian. Pendidikan bidang studi, antara lain pendidikan kimia, termasuk lamban dalam mengadaptasikan dan menerapkan teknologi komunikasi dan informasi dibandingkan dengan bidang ilmu lain, padahal kemajuan pendidikan merupakan tolok ukur bagi kemajuan bangsa.
Saat ini sebagian besar sekolah di Indonesia, termasuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), menggunakan pembelajaran klasikal, yaitu pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik satu kelas secara bersama-sama. Ciri-ciri pembelajaran klasikal sebagai berikut: (1) seorang atau beberapa orang guru menghadapi kelas yang terdiri dari sejumlah peserta didik, (2) para peserta didik sebaya usianya, (3) guru memberikan pelajaran kepada para peserta didik dalam waktu yang sama dan mereka mengerjakan tugas-tugas pengajaran bersama-sama, (4) program pengajaran dimulai pada awal tahun pelajaran secara bersama-sama dan pada akhir tahun pelajaran sebagian besar peserta didik naik kelas, kecuali beberapa peserta didik yang dianggap “gagal” harus tetap tinggal kelas. Kelemahan pembelajaran klasikal adalah sebagai berikut: (1) mengabaikan perbedaan individual, (2) tidak dapat mengembangkan potensi dalam diri peserta didik secara optimal, (3) guru cenderung berperan dominan dan peserta didik cenderung bersikap pasif dan represif.
Pembelajaran klasikal dilakukan dengan cara guru mengajarkan bahan yang sama dengan metode yang sama dan penilaian yang sama kepada semua peserta didik dan dianggap akan menghasilkan hasil yang sama (Oemar Hamalik, 2008: 179). Pembelajaran klasikal dalam beberapa tahun terakhir juga sudah menunjukkan perhatiannya pada perbedaan individual, namun masih terbatas. Berbeda dengan pembelajaran klasikal, pembelajaran individual merupakan suatu strategi untuk mengatur kegiatan pembelajaran sehingga setiap peserta didik memperoleh perhatian lebih banyak daripada yang dapat diberikan dalam kegiatan kelompok pada proses pembelajaran.
Pembelajaran individual diilhami oleh teori Skinner yang dikenal sebagai teori penguatan (reinforcement theory). Teori Skinner memandang bahwa pembelajaran adalah perubahan dalam perilaku dan situasi yang terkontrol dengan baik. Kontribusi teori penguatan yaitu, pembelajaran menggunakan teknik-teknik berikut: (1) menyebutkan tujuan sehubungan dengan perilaku yang diinginkan, (2) memberikan penilaian pada perilaku peserta didik sebelum pelaksanaan pembelajaran, (3) menempatkan peserta didik dalam suatu rangkaian pembelajaran di mana mereka dapat mencapai kemampuan sembilan puluh persen, (4) menggunakan mesin pembelajaran untuk mendorong dan memperkuat perilaku akhir, dan (5) merekam kemajuan peserta didik selama pembelajaran untuk mendapatkan umpan balik dan merevisi pelajaran (Mukminan, 1998: 27)
Tahun 90-an adalah masa di mana lingkungan belajar lebih berorientasi pada peserta didik dibanding tahun-tahun sebelumnya (Cheng Choo, 1994: 230-236). Dengan demikian pembelajaran harus lebih mengakomodasi kepada gaya belajar individual peserta didik, yaitu pembelajaran individual. Latar belakang lahirnya pembelajaran individual adalah bahwa tidak ada dua orang peserta didik yang memiliki taraf prestasi belajar sama yang di dalam pencapaiannya dengan menggunakan cara yang sama, memecahkan masalah dengan cara yang sama, memiliki pola minat yang sama, dimotivasi untuk mencapai prestasi belajar pada taraf yang sama, siap untuk belajar dalam waktu yang sama, dan memiliki kemampuan yang sama untuk belajar. Peserta didik memiliki perbedaan karakteristik dalam belajarnya. Anak sejak dilahirkan memiliki sejumlah potensi, namun dalam perkembangan dan pertumbuhannya, tidak semua potensi dapat berkembang dengan baik.
Setiap individu memiliki kepribadian yang unik. Keunikan ini terbentuk oleh perpaduan faktor keturunan (heredity), faktor lingkungan (environment), dan faktor diri (self). Pembelajaran individual diharapkan sebagai upaya untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik agar dapat belajar sesuai dengaan kecepatan belajar, kemampuan, dan caranya sendiri dalam belajar. Pembelajaran individual menekankan pada pentingnya perhatian, bantuan, dan perlakuan khusus pada peserta didik secara individual yang berbeda minat, kemampuan, kebutuhan, serta kecepatan belajarnya.
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu: (1) kelompok seni, pariwisata, dan teknologi kerumahtanggaan, (2) kelompok sosial, administrasi perkantoran, dan akuntansi, (3) kelompok teknologi, (4) kelompok pertanian, dan (5) kelompok kesehatan. Kelompok teknologi memiliki beberapa program keahlian, antara lain Kimia Industri dan Analisis Kimia. Mata pelajarannya dikelompokkan menjadi normatif, adaptif, dan produktif. Mata pelajaran produktif terdiri dari dasar kompetensi kejuruan dan kompetensi kejuruan. Mata pelajaran kompetensi kejuruan terdiri dari sekitar 26 standar kompetensi dan dibagi menjadi beberapa kelompok mata pelajaran. Dasar-dasar Operasi Teknik Kimia (DOTK) merupakan salah satu mata pelajaran kompetensi kejuruan yang terdiri dari beberapa standar kompetensi, hal ini dapat dilihat pada Tabel 1 halaman 53.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan paradigma baru dalam pendidikan, sebagai upaya untuk mengatasi kelemahan pembelajaran selama ini. Menurut bahan bimbingan teknis penyusunan KTSP dan Silabus SMK (2006: 2-3), prinsip-prinsip pengembangan KTSP SMK antara lain: (1) berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya, (2) memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, dan (3) tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Dengan demikian KTSP mengisyaratkan pembelajaran yang lebih bersifat individual, disesuaikan dengan karakteristik peserta didik, karakteristik materi pembelajaran, dan karakteristik lingkungan pembelajaran. Tahun 2008/2009 KTSP diberlakukan penuh di kelas XII SMK. Mata pelajaran dipecah-pecah menjadi paket-paket belajar sesuai dengan standar kompetensi, sehingga tidak akan dikenal lagi mata pelajaran yang namanya berbasis ilmu. Nama dasar-dasar operasi teknik kimia hanyalah nama sekelompok mata pelajaran yang berbasis operasi teknik kimia seperti mata kuliah di perguruan tinggi, tetapi di dalamnya berisi beberapa mata pelajaran yang berdiri sendiri. Oleh karena itu dikenal mata pelajaran evaporasi, mata pelajaran distilasi, mata pelajaran ekstraksi, mata pelajaran filtrasi, mata pelajaran absorpsi, dan lain-lain sesuai dengan standar kompetensinya. Meskipun demikian nama Operasi Teknik Kimia (OTK) masih akrab di telinga peserta didik, sebagaimana nama kimia organik yang sebenarnya tidak sesuai lagi.
Tahun ajaran 2007/2008 secara umum persentase kelulusan dalam ujian nasional (UNAS) untuk tingkat SMA/MA/SMK di wilayah DIY mengalami penurunan. Hal ini bisa dilihat dari persentase kelulusan untuk tingkat SMA yang dulu bisa mencapai 94,43 persen, tahun ini turun menjadi 93,81 persen. Tingkat MA dari 87,91 persen turun menjadi 84,26 persen. Sedangkan untuk SMK pada tahun ajaran 2007/2008 persentase kelulusannya justru mengalami penurunan yang signifikan dari 90,51 persen, turun menjadi 85,84 persen. Menurut Kepala Dinas Penidikan Propinsi DIY Prof. Suwarsih Madya, PhD, penurunan persentase kelulusan ini tidak hanya terjadi di wilayah DIY, tetapi juga nasional. Penyebab menurunnya persentase kelulusan diduga akibat adanya penambahan mata pelajaran UNAS. Mata pelajaran kimia bahkan tercatat memiliki nilai terendah mencapai 1,25 (Kedaulatan Rakyat, halaman 19 kolom 1-5, 14 Juni 2008). Hal ini menunjukkan bahwa materi pelajaran kimia maupun DOTK kurang dapat dikuasai oleh peserta didik. Kualitas pembelajaran DOTK masih perlu terus ditingkatkan, agar prestasi peserta didik dapat meningkat.
Tahun 2008/2009 SMKN 2 Depok mencanangkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) untuk mata pelajaran kelompok kompetensi kejuruan atau produktif, mendapatkan nilai 7,00 (tujuh koma nol nol). Guru mata pelajaran kelompok produktif, termasuk DOTK, menghadapi dua tantangan sekaligus. Pertama, prestasi peserta didik yang masih rendah dan masih harus terus ditingkatkan, kedua kriteria ketuntasan minimal yang tergolong tinggi.
Pada tahun 2000 telah diamati adanya banyak perubahan di bidang pendidikan dan pembelajaran. Perubahan tersebut menurut Sukardjo (2000) mengikuti kecenderungan (trend) tertentu, di antaranya: (1) kurikulum yang semula berorientasi pada materi kimia (suject matter oriented) cenderung berubah menjadi kurikulum yang berorientasi kepada hasil (output oriented) dan proses (process oriented) mencapai hasil, (2) pembelajaran yang semula berpusat pada guru (teacher centered) cenderung berubah menjadi berpusat pada peserta didik atau peserta didik (student centered), (3) pengorganisasian yang semula bersifat klasikal berubah menjadi kelompok, bahkan individual, (4) buku ajar yang semula berisi seluruh konsep cenderung berubah menjadi buku ajar yang berisi satu konsep dalam bentuk paket-paket belajar, dan (5) media pembelajaran yang semula berupa media konvensional cenderung berubah menjadi media elektronik.
Kini, tahun 2008 atau delapan tahun kemudian kecenderungan tersebut menunjukkan arah yang sesungguhnya. Pengorganisasian pembelajaran menjadi bersifat kelompok, bahkan individual. Bahan ajar yang semula berupa buku atau bahan cetak lain, berubah menjadi paket pembelajaran sesuai dengan standar kompetensinya. Media pembelajaran benar-benar berubah dari media konvensional menjadi media elektronik, yaitu media komputer. Multimedia yang dulu diartikan sebagai penggunaan beberapa media secara bersamaan, sekarang fungsinya digantikan oleh komputer, bahkan semakin jelas kebutuhannya akan media yang bersifat interaktif. Fungsi media interaktif menjadi semakin penting hingga saat ini karena dapat “memperbesar” objek yang kecil, “mendekatkan” objek yang jauh, dan bahkan dapat mempersingkat waktu pembelajaran.
Tuntutan dunia global mengharuskan setiap guru SMK maupun peserta didik yang akan bekerja, memiliki kemampuan mengoperasikan komputer dan bahasa asing, selain bidang keahliannya masing-masing. Komputer sebagai perangkat keras (hardware) bukan barang baru di masyarakat, tetapi keberadaan komputer sebagian besar masih digunakan untuk mengetik dan mempelajari program. Pemanfaatan komputer untuk membuat program (software) atau membuat media interaktif masih terbatas, apalagi di bidang pendidikan dan pembelajaran. Media pembelajaran berbantuan komputer untuk SMK hingga saat ini jarang dijumpai, bahkan untuk media pembelajaran yang bersifat interaktif masih sangat jarang. Masalah ini memerlukan penyelesaian segera mengingat efektivitas media ini dalam penyampaian pesan cukup baik.
Multimedia interaktif berbasis komputer akan mampu “menghadirkan” dunia usaha dan dunia industri ke dalam dunia sekolah. Penjelasan proses kerja di industri maupun di laboratorium dapat divisualisasikan dengan media interaktif ini, sehingga menghasilkan pemahaman yang seragam antara satu peserta didik dengan peserta didik lain. Keterbatasan alat-alat dan bahan-bahan praktik di sekolah juga dapat dibantu dengan beberapa gambar dan animasi yang sesuai.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan pada sub bab sebelumnya, maka dapat dikemukakan identifikasi masalahnya sebagai berikut:
a. Pembelajaran di SMK masih bersifat klasikal dan kurang memperhatikan perbedaan individu masing-masing peserta didik.
b. Prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran Dasar-dasar Operasi Teknik Kimia (DOTK) masih rendah, sehingga perlu ditingkatkan.
c. Produk paket pembelajaran berbantuan komputer untuk SMK belum banyak dihasilkan dan dimanfaatkan dalam pembelajaran.
d. Sarana dan prasarana belajar praktik di sekolah masih terbatas jumlahnya, sehingga efektivitas pembelajaran masih perlu ditingkatkan.
e. SMK masih kesulitan untuk menerapkan prinsip link and match antara pembelajaran dan dunia usaha atau dunia industri karena kesulitan “menghadirkan” industri, sedangkan pembelajaran dengan terjun langsung ke industri berbiaya mahal.
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi yang telah dikemukakan di atas, maka masalah akan dibatasi pada pengembangan paket pembelajaran berbantuan komputer untuk mata pelajaran dasar-dasar operasi teknik kimia, yang untuk selanjutnya disingkat menjadi PPBK-DOTK, ditujukan kepada para peserta didik kelas XII Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kelompok teknologi program keahlian kimia industri.
D. Rumusan Masalah
Identifikasi masalah meliputi segenap rumusan masalah yang berhasil diidentifikasi dari latar belakang yang telah dipaparkan. Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana mengembangkan perangkat lunak (software) paket pembelajaran berbantuan komputer untuk mata pelajaran dasar-dasar operasi teknik kimia (PPBK-DOTK) agar dapat menjadi alternatif sumber belajar dalam memecahkan masalah pembelajaran dan menjadi media yang memiliki daya tarik bagi peserta didik?
2. Bagaimanakah kelayakan perangkat lunak (software) PPBK-DOTK yang dihasilkan untuk pembelajaran dasar-dasar operasi teknik kimia?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ditentukan berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan. Berdasarkan rumusan masalahnya, maka dapat dikemukakan tujuan penelitian sebagai berikut:
1. Mengembangkan perangkat lunak (software) paket pembelajaran berbantuan komputer untuk mata pelajaran dasar-dasar operasi teknik kimia (PPBK-DOTK) agar dapat menjadi alternatif sumber belajar dalam memecahkan masalah pembelajaran dan menjadi media yang memiliki daya tarik bagi peserta didik.
2. Mengetahui kelayakan produk Paket Pembelajaran Berbasis Komputer untuk mata pelajaran Dasar-dasar Operasi Teknik Kimia (PPBK-DOTK).
F. Spesifikasi Produk yang Dikembangkan
Paket Pembelajaran Berbantuan Komputer (PPBK) pada mata pelajaran DOTK yang merupakan pokok dari penelitian dan pengembangan ini terdiri dari 3 (tiga) sub-paket, yaitu (1) evaporasi, (2) distilasi, dan (3) ekstraksi. Masing-masing sub-paket merupakan satu unit terpisah, tetapi ketiganya dituangkan dalam satu CD pembelajaran interaktif. Setiap sub-paket memuat:
1. Pengantar untuk memotivasi peserta didik akan pentingnya belajar dasar-dasar operasi teknik kimia (DOTK), sehingga dapat mengarahkan peserta didik dalam belajar dan untuk memperjelas pemahaman isi/materi DOTK.
2. Bahan penarik perhatian pada setiap halaman terdiri dari teks, gambar, warna, musik, suara, desain grafis, screen design, animasi, grafik, video-video, dan movie interaktif, yang dapat merangsang minat belajar
3. Sajian kompetensi yang terdiri dari standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indicator ketercapaian untuk meningkatkan motivasi peserta didik karena adanya kepastian hasil belajar yang diharapkan.
4. Sajian pengetahuan atau kompetensi prasyarat, berupa pengetahuan awal yang diperlukan untuk mempelajari materi pembelajarannya. Pengetahuan prasyarat akan dapat mengkaitkan antara pengetahuan yang telah diperoleh dengan kompetensi baru yang akan dicapai.
5. Penduluan, berupa menu yang mengarahkan pengguna untuk memilih materi yang akan dipelajari, untuk merangsang kesiapan peserta didik dalam belajar
6. Isi/materi, merupakan inti dari media interaktif ini
7. Contoh soal, beserta jawaban dan pembahasannya
8. Ringkasan, untuk memperkuat pemahaman
9. Latihan soal interaktif beserta kunci jawabannya
10. Penilaian untuk menguji kompetensi peserta.didik setelah pembelajaran
11. Permainan sebagai penyegaran kembali dan menghilangkan kejenuhan.dalam pembelajaran berbantuan komputer.
G. Manfaat Penelitian
Pengembangan paket pembelajaran berbantuan komputer pada mata pelajaran dasar-dasar operasi teknik kimia (PPBK-DOTK) diharapkan memberikan manfaat bagi guru, peserta didik, maupun dunia pendidikan pada umumnya.
1. Manfaat bagi guru:
a. Mengurangi dominasi peran guru sehingga memberi kesempatan pada guru untuk meningkatkan perhatian kepada peserta didik secara individual.
b. Merangsang kreativitas guru dalam mengembangkan multimedia pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
2. Manfaat bagi peserta didik:
a. Semua peserta didik terlibat dalam proses pembelajaran, mengolah materi yang diperolehnya, menunjukkan kemampuan belajarnya, dan menerima umpan balik secara langsung, sehingga merangsang motivasi belajar..
b. Pembelajaran interaktif yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik akan membantu kemandirian peserta didik secara individual dalam mempelajari DOTK sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik dan menyenangkan.
3. Manfaat bagi dunia pendidikan:
a. PPBK dalam pengembangan pembelajaran DOTK akan sangat dibutuhkan seiring dengan berkembangnya teknologi informasi dalam memberikan kemampuan yang signifikan bagi peserta didik bertahan di abad ke-21.
b. PPBK untuk SMK saat ini masih terbatas, pengembangan produk ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran SMK.
H. Asumsi dan Keterbatasan Pengembangan
Pengembangan paket pembelajaran berbantuan komputer pada mata pelajaran dasar-dasar operasi teknik kimia (PPBK-DOTK) dengan asumsi antara lain:
1. PPBK-DOTK dapat mendukung pembelajaran individual dalam pendidikan modern, sehingga memungkinkan peserta didik maju sesuai dengan kecepatannya sendiri-sendiri
2. PPBK-DOTK dapat membantu peserta didik lebih mengenal dan terbiasa dengan komputer yang menjadi semakin penting dalam masyarakat modern.
3. PPBK-DOTK dapat mempengaruhi sikap belajar dan meningkatkan daya pikir serta rasa percaya diri pada peserta didik.
4. Pengembangan ini tepat untuk merespon secara proaktif terhadap perkembangan teknologi informasi, ilmu, dan tuntutan untuk terus memutakhirkan pembelajaran DOTK.
5. PPBK-DOTK memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara pengguna dengan materi pembelajaran.
6. PPBK-DOTK dapat memberikan umpan balik terhadap respon peserta didik dengan segera.
7. PPBK-DOTK dapat menciptakan proses belajar yang berkesinambungan.
8. PPBK-DOTK dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar peserta didik
9. PPBK-DOTK dapat mengatasi kelemahan pembelajaran yang bersifat verbal sehingga proses pembelajaran lebih interaktif
Keterbatasan pengembangan paket pembelajaran berbasis komputer pada mata pelajaran dasar-dasar operasi teknik kimia (PPBK-DOTK) adalah:
1. Pengembangan hanya difokuskan pada terwujudnya sebuah paket pembelajaran berbentuk CD interaktif yang layak didiseminasikan dalam lingkup lebih luas.
2. Produk paket pembelajarannya hanya dapat diterapkan terbatas, yaitu terhadap SMK yang membuka program keahlian kimia industri.
3. Uji coba terbatas pada uji perorangannya dan lapangan, kemungkinan belum sepenuhnya mencerminkan pendapat subjek uji coba.
I. Definisi Istilah
Berbagai istilah yang berkaitan dengan judul tesis ini, didefinisikan untuk memudahkan mengidentifikasi PPBK-DOTK adalah :
1. Pengembangan PPBK-DOTK adalah proses penerjemahan spesifikasi desain ke dalam bentuk fisiknya, mencakup berbagai teknologi yang diterapkan dalam pembelajaran, baik teknologi tercetak, audio, audio visual, komputer, dan teknologi terpadu.
2. Paket pembelajaran adalah suatu kesatuan kegiatan pembelajaran yang dirancang untuk membantu peserta didik secara individual dalam mencapai kompetensi belajar.
3. Paket pembelajaran berbantuan komputer (PPBK) adalah perangkat lunak (software) pembelajaran interaktif yang dibuat dengan program aplikasi komputer multimedia, disimpan dalam keping CD.
4. Pembelajaran dasar-dasar operasi teknik kimia (DOTK) adalah pelaksanaan pembelajaran yang diarahkan sesuai sifat atau karakteristik DOTK yang banyak menggunakan tabel dan grafik serta praktik di laboratorium.
Dari definisi tersebut, maka maksud keseluruhan dari judul “Pengembangan Paket Pembelajaran Berbantuan Komputer untuk Mata Pelajaran Dasar-dasar Operasi Teknik Kimia” adalah mengembangkan desain ke dalam bentuk perangkat lunak (software) mata pelajaran DOTK sebagai sarana penyajian yang dirancang sebagai upaya pemecahan masalah melalui proses pembelajaran DOTK yang diarahkan sesuai karakteristik DOTK yang banyak menggunakan tabel dan grafik serta praktik di laboratorium.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar